Anda Ingin Sukse Dalam Karir ??? SUKSES Itu ada Rumusnya,
Rumus Sukses ada 3 kata Itu iyalah :
TARGET + MOTIVASI +KONSISTEN =HASIL
Kenapa saya bilang Target : jadi target Itu Menggambar kan Apa yang Akan kamu Akan Capai,
Contoh:
MERRY RIANA
Targetkan Kebebasan Finansial Sebelum Usia 30 Tahun
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Merry Riana mendapat banyak sorotan dan perhatian dari masyarakat Indonesia. Wanita yang sebelumnya berstatus sebagai wanita “biasa-biasa” saja ini mendadak muncul dengan kejutan yang cukup memukau. Beberapa kover buku juga memajang wajah wanita cantik ini dengan judul yang berbeda-beda. Meskipun judul bukunya beragam, namun bisa ditangkap bahwa isi buku itu ingin berkata bahwa Merry Riana adalah satu dari sedikit wanita hebat Indonesia yang sukses di usia yang masih muda. Pada tahun 2006 lalu, penghasilan Merry telah mencapai US $ 1 juta dan ia dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura.
Kesuksesannya itulah membuat nama Merry Riana menyita perhatian ribuan masyarakat Indonesia. Ribuan orang semakin terhenyak ketika tahu perjalanan hidup Merry Riana yang sebenarnya. Sebelum mencapai kesuksesan sepeti sekarang ini, Merry Riana menjalani hidupnya sebagai mahasiswa dengan keadaan ekonomi memprihatinkan. Namun, dari hidupnya yang serba minim selama kuliah itulah, Merry terdorong untuk segera keluar dari belenggu kesulitan ekonomi yang dialaminya. Dari kesulitan yang dialami itulah muncul tujuan, harapan, impian, target serta keyakinan untuk bisa maju dan berkembang.
Semua bermula ketika Merry sampai ditempat menimba ilmunya di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Perlu dicatat, NTU merupakan salah satu universitas paling bergengsi di negeri tersebut dan tentu saja para mahasiswanya datang dari kalangan menengah ke atas. Karena bercita-cita menjadi insinyur elektro seperti ayahnya, Merry mengambil jurusan Electrical and Electronics Engineering di NTU. Sebenarnya, Merry tidak pernah bercita-cita akan kuliah di luar negeri. Ia harus lari ke Singapura karena dipaksa keadaan. Maraknya kerusuhan Mei ’98 membuat nasib wanita muda layaknya Merry tidak aman. Kondisi negara yang tidak karuan mendorong orang tua Merry mengirim anaknya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan tingginya.
Orang tua Merry, meskipun tidak tergolong miskin, tidak bisa memberikan bekal finansial berlebih kepada Merry saat kuliah di Singapura. Merry hanya diberi bekal $7 ribu Singapura atau sekitar Rp.7.000.000. Uang itu digunakannya untuk membeli perlengkapan pokok yang diperlukan oleh seorang mahasiswa baru. Uang itu juga digunakannya untuk membeli buku-buku kuliah. Meskipun jarak Jakarta-Singapura tidak dekat, Merry tidak menolak untuk membawa beras, gula, kompor dan komputer dari rumah untuk digunakannya di Singapura. Ia juga membawa sebuah buku pemberian ibunya yang berisi do’a dan kata-kata mutiara. Isi buku inilah yang menjadi cambuk semangat ketika Merry mengalami masa-masa sulit.
Banyak tantangan yang harus dijalani Merry selama di Singapura. Dengan keterbatasan finansial yang ia miliki, setiap harinya Merry harus menerapkan pola hidup sederhana. Supaya bisa berhemat, Merry sering mengkonsumsi roti dan mie instan. Tak jarang pula ia berpuasa atau membawa bekal dari rumah ketika berangkat kuliah. Untuk menghidari ejekan teman-temannya, Merry sengaja makan bekal tersebut di kamar mandi. “Sempat saya kesal dan frustasi, sudah jauh-jauh hidup di negeri orang, tetapi tidak bisa makan enak seperti teman-teman sebaya, bahkan saya sering makan bekal di toilet perempuan karena malu, itu masa-masa paling memilukan dalam hidup saya.”
Sekarang, saat sudah sukses, Merry tidak pernah malu menceritakan pengalamannya menjalani masa-masa sulit itu. Ia juga menceritakan bahwa pada tahun pertama kuliah ia harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh dolar atau sekitar tujuh puluh ribu rupiah untuk tujuh hari, itu berarti, ia hanya punya anggaran sepuluh ribu rupiah per harinya untuk makan. Seberat apapun kondisinya ketika di Singapura, Merry memilih untuk tidak menceritakan kesedihannya pada orang tuanya, setiap orang tuanya menanyakan keadaannya, Merry akan mengatakan ia baik-baik saja, ia tidak mau menambah beban orang tuanya yang masih harus menanggung beban dua adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah. Sebagai anak tertua, Merry justru mengkhawatirkan keadaan orang tua dan adik-adiknya pasca kerusuhan.
Keadaan ekonomi yang semakin melilit mendorong Merry mencari cara bertahan hidup, Ia bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, penjaga toko bunga dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Merry mendapat upah lima dolar Singapura per jamnya, gaji sejumlah itu sangatlah kecil, namun mau bagaimana lagi karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya Ia harus mengikuti aturan di Singapura di mana seorang student pass dan masih dibawah umur tidak bisa bekerja di kantor yang pasti menawarkan gaji yang lebih besar, Merry mau tidak mau harus menekuni segala pekerjaan dengan upah minim.
Kondisi finansial Merry semakin sulit, sedangkan kebutuhan pokok dan kuliah tidak pernah bisa ditunda. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan dan tidak ada sanak saudara Merry semakin gundah. Merry akhirnya memutuskan berhutang pada pemerintah Singapura senilai $40.000 atau sekitar Rp.280.000.000, pemerintah Singapura memang sedang membrikan program pemberian dana bantuan untuk kuliah, jadilah biaya kuliah Merry dibiayai pemerintah Singapura hingga Ia lulus dengan syarat setelah Ia lulus nanti harus melunasi hutang tersebut. Oleh pemerintah Singapura setiap bulannya Merry diberi 300 dolar Singapura yang dapat digunakan untuk biaya asrama, makan, transportasi dan tentu saja untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya seperti membeli buku-buku dan sebagainya.
Dengan pemasukan yang minim, utang tersebut tidak dapat lekas terlunasi hingga ia lulus kuliah. Merry kemudian mulai memikirkan bagaimana cara supaya bisa melunasi hutang-hutangnya, sebenarnya Merry sudah mempunyai ide untuk membuka usaha, namun ada banyak hal yang menjadi kendala pada waktu itu, Ia tidak punya apapun untuk bisa dijadikan modal, mulai modal finansial hingga non finansial seperti keahlian dan jaringan pertemanan, padahal ia tahu bahwa mustahil bagi seorang untuk merintis usaha tanpa modal apa-apa.
“Aku selalu berpikir bahwa biasanya untuk membangun suatu bisnis yang sukses harus memiliki tiga komponen yaitu modal, relasi dan keahlian. Pada waktu itu tidak satupun yang kumiliki. Dari segi modal aku malahan masih berhutang S $40.000, dari segi relasi semua temanku hanyalah sesama pelajar yang juga baru lulus dan masih menganggur, dedangkan dari segi keahlian aku hanya mempunyai keahlian teknik, bukan bisnis atau keahlian berkomunikasi, singkatnya sumber daya yang kumiliki sangat terbatas.”
Memasang Target
Semangat untuk mencapai sukses terus dipupuk Merry sejak ia masih duduk di bangku kuliah, melihat bagaimana perjuangan orang tuanya dalam membiayai kuliahnya, ia lantas punya cita-cita untuk sukses di usia muda, ia ingin jika nanti kembali ke Indonesia ia sudah harus kembali sebagai orang yang sukses, Merry bertekad bahwa sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-30 ia harus sudah mencapai kesuksesan berupa kebebasan finansial, bisa membayar semua hutangnya dan tentu saja membahagiakan kedua orang tuanya, meskipun ketiga hal tersebut masih dirasa seperti mimpi, namun harapan Merry untuk bisa meraih mimpi tersebut sangatlah besar. Memasuki tahun ketiga kuliahnya, Merry pernah berkesempatan magang di sebuah perusahaan di Singapura. Di perusahaan ini ia bisa mendapatkan upah yang lumayan yaitu sekitar tujuh ratus lima puluh dolar per bulannya. Baru dua bulan berjalan, Merry sudah berpikir jika ia terus bekerja untuk orang lain, maka impiannya untuk sukses di usia muda akan sulit tercapai, oleh karena itu dengan tekad dan niat untuk membahagiakan orang tuanya ia mampu mengalahkan semua rintangan serta tantangan.
Saat masih kuliah, Merry sadar bahwa pada waktu itu usianya hampir menginjak dua puluh tahun sedangkan orang tuanya sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Mengingat usia kedua orang tuanya sudah menuju senja, maka tibbullah pikiran bahwa bahwa jika ia sukses, ia ingin kesuksesannya itu juga bisa dinikmati oleh kedua orang tuanya. “Melihat bagaimana mereka masih harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, menyimpan uang yang cukup untuk hari tua mereka, membuat saya berpikir, jika saya sukses suatu hari nanti saya ingin sukses ketika masih muda, sebelum ulang tahun ke-30, bukan ketika saya berumur 40-50 tahun. Dengan begitu saya bisa mengajak orang tua saya menikmati makanan terbaik, bertamasya ke luar negeri dan menjalani hidup sepenuhnya.”
Semua keterbatasan tersebut tak membuat Merry patah semangat. Meskipun ia tak memiliki modal finansial, namun Merry masih dapat memanfaatkan modal utama yang ia miliki berupa sikap positif, ketekunan dan keyakinan.”Aku tidak memiliki modal, koneksi dan keahlian apapun, namun dengan attitude yang positif, ketekunan dan kerja keras yang luar biasa aku akhirnya berhasil membayar lunas semua utangku dalam waktu enam bulan dan mencapai kebebasan finansial 4 tahun setelah kelulusanku pada tahun 2002″
Target
Target akan menjadi omong kosong belaka jika tanpa diiringi usaha. Sebagaimana Merry, untuk menuju targetnya mencapai kebebasan finansial, ia melakukan banyak usaha, mulai dari mencoba peruntungan di Multi Level Marketing (MLM) hingga jual beli saham, sampai akhirnya ia memilih bidang jasa penasihat keuangan. Sebelum benar-benar bergulat sebagai penasehat keuangan, Merry telah mengalami beberapa kali kegagalan dalam berbisnis. Karier Merry dimulai ketika ia menceburkan diri di MLM, sayangnya ketika baru pertama kali berkecimpung dengan bisnis ini ia malah tertipu Rp.1.400.000 stelah membayarkan uang pada MLM terkai, MLM tersebut malah menghilang tanpa jejak, sejak saat itu Merry tidak mau lagi main-main di bisnis serupa, selain itu Merry juga pernah kehilangan uangnya sebesar sepuluh ribu dolar atau sekitar tujuh puluh juta rupiah hanya dala waktu tiga puluh hari saat melakukan transaksi saham, padahal uang itu merupakan simpanan dari hasil jerih payahnya selama empat tahun bekerja saat masih kuliah.
Meskipun telah menghadapi banyak kegagalan, namun kegagalan-kegagalan tersebut memberinya pelajaran berharga untuk mengembangkan kemampuannya dalam dunia bisnis. Sebagaimana prinsip awal yang dipegangnya, meskipun sudah beberapa kali gagal merintis usaha, Merry tidak tertarik melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan, ia berkeyakinan bahwa jika ingin cepat sukses, sebaiknya ia harus berdiri sendiri dan jangan mengekor orang lain, biarpun harus jatuh berkali-kali namun ia siap untuk kembali bangun, ia akan menekuni setiap usaha yang diyakininya akan menuai hasil, sebagaimana pesan sang ibu kepadanya “Arahkanlah pandanganmu kepada Tuhan dan Dia akan membrikan kamu jalan, tidak semuanya sekaligus tapi langkah demi langkah dan setiap langkah adalah mukjizat.” Kalimat itulah yang menjadi penyemangat Merry untuk terus bersemangat maju.
Setelah merasakan pahit getir merintis bisnis, akhirnya Merry menemukan kecocokan dalam dunia saham. Sebenarnya Merry tak pernah menyangka akan menggeluti bisnis tersebut, pada waktu itu karier Merry bermula ketika ia bergabung dengan sebuah klub bisnis di kampusnya. “Saya terima ajakan teman berbisnis MLM, setelah bayar investasi 200 dolar Singapura dan ikut semina, ternyata saya ditipu. Lalu saya ikut klub bisnis di kampus, ada kompetisi tentang saham, simulasi modal, target dan keuntungan, meski hanya permainan eh, saya menang. Ya sudah saya mulai bermain saham betulan.” Setelah memantapkan diri untuk bergelut di dunia saham Merry masih juga menemui beberapa hambatan, satu diantaranya justru muncul dari orang tua Merry yang menyangsikan untuk terjun di dunia bisnis, saat mengetahui Merry ingin menggeluti dunia bisnis ia tak mendapatkan restu orang tuanya, kedua orang tua Merry lebih menghendaki Merry bekerja di perusahaan, dengan begitu Merry akan mendapatkan penghasilan dan kehidupan terjamin, menghadapi respon negatif dari orang tuanya Ia pun meminta jangka waktu tiga bulan untuk membuktikan kesungguhan dan keyakinannya dalm berbisnis, jika dalam waktu tiga bulan ini gagal ia akan menuruti kehendak orang tuanya.
Motivasi
Untuk memulai usahanya, pada waktu itu Merry sengaja menggabungkan uang miliknya dan milik Alva, kekasihnya. Rupanya Alva tahu betul bahwa Merry bercita-cita ingin sukses di usia muda. Oleh karena itu ia mendukung penuh langkah Merry untuk mengembangkan usahanya. Di tahun 2002, ia memulai usahanya sebagai konsultan keuangan, Ia menjual produk asuransi, tabungan, deposito, investasi, unitilink dan kartu kredit, dari sinilah awal usaha Merry di bidang keuangan bermula. Karena di awal perintisannya Merry belum punya banyak klien, ia mengambil langkah nekat dengan menjadi sales produk asuransi. Merry tak malu menawarkan langsung usahanya tersebut kepada para kliennya, dengan ditemani Alva, ia berdiri di stasiun MRT selama 14 jam sehari untuk menawarkan produk asuransinya.
Konsisten
Disinilah watak Merry yang gemar memasang target kembali ditunjukkan, saat menawarkan produknya ia tak akan pulang sebelum targetnya tercapai, yakni melaksanakan 20 presentasi dalam sehari, uniknya, disaat yang sama Merry juga memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar, maupun bertanya langsung kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Sukses Mencapai Target
Usaha Merry terbilang berkembang dengan cepat, setahun berikutnya Merry berhasil mengumpulkan modal dan mulai merekrut staf sebagai salesman sekaligus mulai membangun “tim impian” atau yang sering disebut dengan The Dream Team. Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), sebuah perusahaan milik Merry yang bergerak di bidang konsultasi keuangan. MRO adalah perusahaan yang mengantarkan Merry menuju puncak kesuksesan, hanya dalam waktu 4 tahun setelah Merry lulus dari NTU, ia sudah punya pendapatan sebesar Rp. 7 miliar. Yang lebih mengagumkan, pada waktu itu usia Merry baru mencapai 26 tahun, dengan pendapatan sebesar itu sudah pasti Merry dapat dikatakan berhasil meraih mimpinya untuk membahagiakan kedua orangtuanya saat ia masih muda.
Merry pun konsisten terhadap janji yang diucapkan pada dirinya sendiri, Ia mencukupi berbagai kebutuhan keluarganya dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri. Merry akhirnya berhasil membayar lunas semua hutangnya dalam waktu enam bulan dan mencapai kebebasan financial empat tahun setelah kelulusannya. Kini ia diakui sebagai pengusaha sukses, motivator yang sangat dinamis serta penulis buku terlaris di Singapura. Tahun 2004 adalah era dinamis dan penuh berkah, ia telah berhasil melewati satu masa perjuangan yang berat, langkah selanjutnya yang tak kalah menantang, Merry mengembangkan organisasi kosultan keuangan dan pada tahun 2006 penghasilan Merry telah mencapai satu juta dolar dan dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura.
Beberapa penghargaan juga telah diraihnya, di tahun 2005 ia menerima penghargaan sebagai Top Agency of the Year dan Top Rookie Agency. Di tahun 2006, ia meraih Nanyang Outstanding Young Alumni Award. Dua tahun setelahnya, ia juga mendapat penghargaan Spirit of Enterprise Award. Ia juga menjadi wanita paling inspiratif dengan meraih Great Women of Our Time Award pada tahun 2010.
Itulah kisah sukses Merry Riana yang berhasil melewati masa-masa sulitnya selama menjadi mahasiswa. Berkat target, Merry berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi gadis kaya raya sebelum usia 30 tahun. Target membantu Merry dalam banyak hal, mulai dari mempermudah langkahnya menjemput tujuan dan impian hingga mengarahkan hal-hal yang harus dilakukannya untuk mendekatkan diri pada tujuan dan impian.
Sedangkan Motivasi : Motivasi Itu harus ada dalam diri Merry Untuk memulai usahanya, pada waktu itu Merry sengaja menggabungkan uang miliknya dan milik Alva, kekasihnya.
Dan Terakhir Konsisten : Konsisten dalam Arti dia Bersunggguh sungguh.:Disinilah watak Merry yang gemar memasang target kembali ditunjukkan, saat menawarkan produknya ia tak akan pulang sebelum targetnya tercapai, yakni melaksanakan 20 presentasi dalam sehari, uniknya, disaat yang sama Merry juga memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar, maupun bertanya langsung kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Merry Riana (lahir di Jakarta, 29 Mei 1980; umur 35 tahun) adalah pengusaha, penulis dan motivator dari Indonesia.[1]
Merry Riana menerbitkan buku berjudul A Gift From a Friend pada tahun 2006 yang berisi pengalaman dan latar belakang dirinya hidup di Singapura. Buku ini menarik perhatian publik Singapura dan Asia Tenggara karena menuliskan tentang prestasinya menghasilkan S$ 1.000.000 pada usia 26 tahun.[2] Awalnya, Merry Riana adalah mahasiswi Nanyang Technological University yang berhutang sebanyak S$ 40.000.[1] Profil kesuksesan Merry Riana mulai dikenal setelah muncul di artikel The Strait Times pada tanggal 26 Januari 2007 yang berjudul "She's made her first million at just age 26" ("Ia mencapai satu juta dolar pertamanya di usia 26 tahun").[3]
Merry Riana aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, perusahaan, sekolah dan media massa di Singapura dan beberapa negara di Asia Tenggara.[1] Ia dikenal giat dalam memanfaatkan jejaring sosial Twitter dan Instagram.[4]
KODE IKLAN BAWAH ARTIKEL
Rumus Sukses ada 3 kata Itu iyalah :
TARGET + MOTIVASI +KONSISTEN =HASIL
Kenapa saya bilang Target : jadi target Itu Menggambar kan Apa yang Akan kamu Akan Capai,
Contoh:
MERRY RIANA
Targetkan Kebebasan Finansial Sebelum Usia 30 Tahun
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Merry Riana mendapat banyak sorotan dan perhatian dari masyarakat Indonesia. Wanita yang sebelumnya berstatus sebagai wanita “biasa-biasa” saja ini mendadak muncul dengan kejutan yang cukup memukau. Beberapa kover buku juga memajang wajah wanita cantik ini dengan judul yang berbeda-beda. Meskipun judul bukunya beragam, namun bisa ditangkap bahwa isi buku itu ingin berkata bahwa Merry Riana adalah satu dari sedikit wanita hebat Indonesia yang sukses di usia yang masih muda. Pada tahun 2006 lalu, penghasilan Merry telah mencapai US $ 1 juta dan ia dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura.
Kesuksesannya itulah membuat nama Merry Riana menyita perhatian ribuan masyarakat Indonesia. Ribuan orang semakin terhenyak ketika tahu perjalanan hidup Merry Riana yang sebenarnya. Sebelum mencapai kesuksesan sepeti sekarang ini, Merry Riana menjalani hidupnya sebagai mahasiswa dengan keadaan ekonomi memprihatinkan. Namun, dari hidupnya yang serba minim selama kuliah itulah, Merry terdorong untuk segera keluar dari belenggu kesulitan ekonomi yang dialaminya. Dari kesulitan yang dialami itulah muncul tujuan, harapan, impian, target serta keyakinan untuk bisa maju dan berkembang.
Semua bermula ketika Merry sampai ditempat menimba ilmunya di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Perlu dicatat, NTU merupakan salah satu universitas paling bergengsi di negeri tersebut dan tentu saja para mahasiswanya datang dari kalangan menengah ke atas. Karena bercita-cita menjadi insinyur elektro seperti ayahnya, Merry mengambil jurusan Electrical and Electronics Engineering di NTU. Sebenarnya, Merry tidak pernah bercita-cita akan kuliah di luar negeri. Ia harus lari ke Singapura karena dipaksa keadaan. Maraknya kerusuhan Mei ’98 membuat nasib wanita muda layaknya Merry tidak aman. Kondisi negara yang tidak karuan mendorong orang tua Merry mengirim anaknya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan tingginya.
Orang tua Merry, meskipun tidak tergolong miskin, tidak bisa memberikan bekal finansial berlebih kepada Merry saat kuliah di Singapura. Merry hanya diberi bekal $7 ribu Singapura atau sekitar Rp.7.000.000. Uang itu digunakannya untuk membeli perlengkapan pokok yang diperlukan oleh seorang mahasiswa baru. Uang itu juga digunakannya untuk membeli buku-buku kuliah. Meskipun jarak Jakarta-Singapura tidak dekat, Merry tidak menolak untuk membawa beras, gula, kompor dan komputer dari rumah untuk digunakannya di Singapura. Ia juga membawa sebuah buku pemberian ibunya yang berisi do’a dan kata-kata mutiara. Isi buku inilah yang menjadi cambuk semangat ketika Merry mengalami masa-masa sulit.
Banyak tantangan yang harus dijalani Merry selama di Singapura. Dengan keterbatasan finansial yang ia miliki, setiap harinya Merry harus menerapkan pola hidup sederhana. Supaya bisa berhemat, Merry sering mengkonsumsi roti dan mie instan. Tak jarang pula ia berpuasa atau membawa bekal dari rumah ketika berangkat kuliah. Untuk menghidari ejekan teman-temannya, Merry sengaja makan bekal tersebut di kamar mandi. “Sempat saya kesal dan frustasi, sudah jauh-jauh hidup di negeri orang, tetapi tidak bisa makan enak seperti teman-teman sebaya, bahkan saya sering makan bekal di toilet perempuan karena malu, itu masa-masa paling memilukan dalam hidup saya.”
Sekarang, saat sudah sukses, Merry tidak pernah malu menceritakan pengalamannya menjalani masa-masa sulit itu. Ia juga menceritakan bahwa pada tahun pertama kuliah ia harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh dolar atau sekitar tujuh puluh ribu rupiah untuk tujuh hari, itu berarti, ia hanya punya anggaran sepuluh ribu rupiah per harinya untuk makan. Seberat apapun kondisinya ketika di Singapura, Merry memilih untuk tidak menceritakan kesedihannya pada orang tuanya, setiap orang tuanya menanyakan keadaannya, Merry akan mengatakan ia baik-baik saja, ia tidak mau menambah beban orang tuanya yang masih harus menanggung beban dua adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah. Sebagai anak tertua, Merry justru mengkhawatirkan keadaan orang tua dan adik-adiknya pasca kerusuhan.
Keadaan ekonomi yang semakin melilit mendorong Merry mencari cara bertahan hidup, Ia bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, penjaga toko bunga dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Merry mendapat upah lima dolar Singapura per jamnya, gaji sejumlah itu sangatlah kecil, namun mau bagaimana lagi karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya Ia harus mengikuti aturan di Singapura di mana seorang student pass dan masih dibawah umur tidak bisa bekerja di kantor yang pasti menawarkan gaji yang lebih besar, Merry mau tidak mau harus menekuni segala pekerjaan dengan upah minim.
Kondisi finansial Merry semakin sulit, sedangkan kebutuhan pokok dan kuliah tidak pernah bisa ditunda. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan dan tidak ada sanak saudara Merry semakin gundah. Merry akhirnya memutuskan berhutang pada pemerintah Singapura senilai $40.000 atau sekitar Rp.280.000.000, pemerintah Singapura memang sedang membrikan program pemberian dana bantuan untuk kuliah, jadilah biaya kuliah Merry dibiayai pemerintah Singapura hingga Ia lulus dengan syarat setelah Ia lulus nanti harus melunasi hutang tersebut. Oleh pemerintah Singapura setiap bulannya Merry diberi 300 dolar Singapura yang dapat digunakan untuk biaya asrama, makan, transportasi dan tentu saja untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya seperti membeli buku-buku dan sebagainya.
Dengan pemasukan yang minim, utang tersebut tidak dapat lekas terlunasi hingga ia lulus kuliah. Merry kemudian mulai memikirkan bagaimana cara supaya bisa melunasi hutang-hutangnya, sebenarnya Merry sudah mempunyai ide untuk membuka usaha, namun ada banyak hal yang menjadi kendala pada waktu itu, Ia tidak punya apapun untuk bisa dijadikan modal, mulai modal finansial hingga non finansial seperti keahlian dan jaringan pertemanan, padahal ia tahu bahwa mustahil bagi seorang untuk merintis usaha tanpa modal apa-apa.
“Aku selalu berpikir bahwa biasanya untuk membangun suatu bisnis yang sukses harus memiliki tiga komponen yaitu modal, relasi dan keahlian. Pada waktu itu tidak satupun yang kumiliki. Dari segi modal aku malahan masih berhutang S $40.000, dari segi relasi semua temanku hanyalah sesama pelajar yang juga baru lulus dan masih menganggur, dedangkan dari segi keahlian aku hanya mempunyai keahlian teknik, bukan bisnis atau keahlian berkomunikasi, singkatnya sumber daya yang kumiliki sangat terbatas.”
Memasang Target
Semangat untuk mencapai sukses terus dipupuk Merry sejak ia masih duduk di bangku kuliah, melihat bagaimana perjuangan orang tuanya dalam membiayai kuliahnya, ia lantas punya cita-cita untuk sukses di usia muda, ia ingin jika nanti kembali ke Indonesia ia sudah harus kembali sebagai orang yang sukses, Merry bertekad bahwa sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-30 ia harus sudah mencapai kesuksesan berupa kebebasan finansial, bisa membayar semua hutangnya dan tentu saja membahagiakan kedua orang tuanya, meskipun ketiga hal tersebut masih dirasa seperti mimpi, namun harapan Merry untuk bisa meraih mimpi tersebut sangatlah besar. Memasuki tahun ketiga kuliahnya, Merry pernah berkesempatan magang di sebuah perusahaan di Singapura. Di perusahaan ini ia bisa mendapatkan upah yang lumayan yaitu sekitar tujuh ratus lima puluh dolar per bulannya. Baru dua bulan berjalan, Merry sudah berpikir jika ia terus bekerja untuk orang lain, maka impiannya untuk sukses di usia muda akan sulit tercapai, oleh karena itu dengan tekad dan niat untuk membahagiakan orang tuanya ia mampu mengalahkan semua rintangan serta tantangan.
Saat masih kuliah, Merry sadar bahwa pada waktu itu usianya hampir menginjak dua puluh tahun sedangkan orang tuanya sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Mengingat usia kedua orang tuanya sudah menuju senja, maka tibbullah pikiran bahwa bahwa jika ia sukses, ia ingin kesuksesannya itu juga bisa dinikmati oleh kedua orang tuanya. “Melihat bagaimana mereka masih harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, menyimpan uang yang cukup untuk hari tua mereka, membuat saya berpikir, jika saya sukses suatu hari nanti saya ingin sukses ketika masih muda, sebelum ulang tahun ke-30, bukan ketika saya berumur 40-50 tahun. Dengan begitu saya bisa mengajak orang tua saya menikmati makanan terbaik, bertamasya ke luar negeri dan menjalani hidup sepenuhnya.”
Semua keterbatasan tersebut tak membuat Merry patah semangat. Meskipun ia tak memiliki modal finansial, namun Merry masih dapat memanfaatkan modal utama yang ia miliki berupa sikap positif, ketekunan dan keyakinan.”Aku tidak memiliki modal, koneksi dan keahlian apapun, namun dengan attitude yang positif, ketekunan dan kerja keras yang luar biasa aku akhirnya berhasil membayar lunas semua utangku dalam waktu enam bulan dan mencapai kebebasan finansial 4 tahun setelah kelulusanku pada tahun 2002″
Target
Target akan menjadi omong kosong belaka jika tanpa diiringi usaha. Sebagaimana Merry, untuk menuju targetnya mencapai kebebasan finansial, ia melakukan banyak usaha, mulai dari mencoba peruntungan di Multi Level Marketing (MLM) hingga jual beli saham, sampai akhirnya ia memilih bidang jasa penasihat keuangan. Sebelum benar-benar bergulat sebagai penasehat keuangan, Merry telah mengalami beberapa kali kegagalan dalam berbisnis. Karier Merry dimulai ketika ia menceburkan diri di MLM, sayangnya ketika baru pertama kali berkecimpung dengan bisnis ini ia malah tertipu Rp.1.400.000 stelah membayarkan uang pada MLM terkai, MLM tersebut malah menghilang tanpa jejak, sejak saat itu Merry tidak mau lagi main-main di bisnis serupa, selain itu Merry juga pernah kehilangan uangnya sebesar sepuluh ribu dolar atau sekitar tujuh puluh juta rupiah hanya dala waktu tiga puluh hari saat melakukan transaksi saham, padahal uang itu merupakan simpanan dari hasil jerih payahnya selama empat tahun bekerja saat masih kuliah.
Meskipun telah menghadapi banyak kegagalan, namun kegagalan-kegagalan tersebut memberinya pelajaran berharga untuk mengembangkan kemampuannya dalam dunia bisnis. Sebagaimana prinsip awal yang dipegangnya, meskipun sudah beberapa kali gagal merintis usaha, Merry tidak tertarik melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan, ia berkeyakinan bahwa jika ingin cepat sukses, sebaiknya ia harus berdiri sendiri dan jangan mengekor orang lain, biarpun harus jatuh berkali-kali namun ia siap untuk kembali bangun, ia akan menekuni setiap usaha yang diyakininya akan menuai hasil, sebagaimana pesan sang ibu kepadanya “Arahkanlah pandanganmu kepada Tuhan dan Dia akan membrikan kamu jalan, tidak semuanya sekaligus tapi langkah demi langkah dan setiap langkah adalah mukjizat.” Kalimat itulah yang menjadi penyemangat Merry untuk terus bersemangat maju.
Setelah merasakan pahit getir merintis bisnis, akhirnya Merry menemukan kecocokan dalam dunia saham. Sebenarnya Merry tak pernah menyangka akan menggeluti bisnis tersebut, pada waktu itu karier Merry bermula ketika ia bergabung dengan sebuah klub bisnis di kampusnya. “Saya terima ajakan teman berbisnis MLM, setelah bayar investasi 200 dolar Singapura dan ikut semina, ternyata saya ditipu. Lalu saya ikut klub bisnis di kampus, ada kompetisi tentang saham, simulasi modal, target dan keuntungan, meski hanya permainan eh, saya menang. Ya sudah saya mulai bermain saham betulan.” Setelah memantapkan diri untuk bergelut di dunia saham Merry masih juga menemui beberapa hambatan, satu diantaranya justru muncul dari orang tua Merry yang menyangsikan untuk terjun di dunia bisnis, saat mengetahui Merry ingin menggeluti dunia bisnis ia tak mendapatkan restu orang tuanya, kedua orang tua Merry lebih menghendaki Merry bekerja di perusahaan, dengan begitu Merry akan mendapatkan penghasilan dan kehidupan terjamin, menghadapi respon negatif dari orang tuanya Ia pun meminta jangka waktu tiga bulan untuk membuktikan kesungguhan dan keyakinannya dalm berbisnis, jika dalam waktu tiga bulan ini gagal ia akan menuruti kehendak orang tuanya.
Motivasi
Untuk memulai usahanya, pada waktu itu Merry sengaja menggabungkan uang miliknya dan milik Alva, kekasihnya. Rupanya Alva tahu betul bahwa Merry bercita-cita ingin sukses di usia muda. Oleh karena itu ia mendukung penuh langkah Merry untuk mengembangkan usahanya. Di tahun 2002, ia memulai usahanya sebagai konsultan keuangan, Ia menjual produk asuransi, tabungan, deposito, investasi, unitilink dan kartu kredit, dari sinilah awal usaha Merry di bidang keuangan bermula. Karena di awal perintisannya Merry belum punya banyak klien, ia mengambil langkah nekat dengan menjadi sales produk asuransi. Merry tak malu menawarkan langsung usahanya tersebut kepada para kliennya, dengan ditemani Alva, ia berdiri di stasiun MRT selama 14 jam sehari untuk menawarkan produk asuransinya.
Konsisten
Disinilah watak Merry yang gemar memasang target kembali ditunjukkan, saat menawarkan produknya ia tak akan pulang sebelum targetnya tercapai, yakni melaksanakan 20 presentasi dalam sehari, uniknya, disaat yang sama Merry juga memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar, maupun bertanya langsung kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Sukses Mencapai Target
Usaha Merry terbilang berkembang dengan cepat, setahun berikutnya Merry berhasil mengumpulkan modal dan mulai merekrut staf sebagai salesman sekaligus mulai membangun “tim impian” atau yang sering disebut dengan The Dream Team. Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), sebuah perusahaan milik Merry yang bergerak di bidang konsultasi keuangan. MRO adalah perusahaan yang mengantarkan Merry menuju puncak kesuksesan, hanya dalam waktu 4 tahun setelah Merry lulus dari NTU, ia sudah punya pendapatan sebesar Rp. 7 miliar. Yang lebih mengagumkan, pada waktu itu usia Merry baru mencapai 26 tahun, dengan pendapatan sebesar itu sudah pasti Merry dapat dikatakan berhasil meraih mimpinya untuk membahagiakan kedua orangtuanya saat ia masih muda.
Merry pun konsisten terhadap janji yang diucapkan pada dirinya sendiri, Ia mencukupi berbagai kebutuhan keluarganya dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri. Merry akhirnya berhasil membayar lunas semua hutangnya dalam waktu enam bulan dan mencapai kebebasan financial empat tahun setelah kelulusannya. Kini ia diakui sebagai pengusaha sukses, motivator yang sangat dinamis serta penulis buku terlaris di Singapura. Tahun 2004 adalah era dinamis dan penuh berkah, ia telah berhasil melewati satu masa perjuangan yang berat, langkah selanjutnya yang tak kalah menantang, Merry mengembangkan organisasi kosultan keuangan dan pada tahun 2006 penghasilan Merry telah mencapai satu juta dolar dan dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura.
Beberapa penghargaan juga telah diraihnya, di tahun 2005 ia menerima penghargaan sebagai Top Agency of the Year dan Top Rookie Agency. Di tahun 2006, ia meraih Nanyang Outstanding Young Alumni Award. Dua tahun setelahnya, ia juga mendapat penghargaan Spirit of Enterprise Award. Ia juga menjadi wanita paling inspiratif dengan meraih Great Women of Our Time Award pada tahun 2010.
Itulah kisah sukses Merry Riana yang berhasil melewati masa-masa sulitnya selama menjadi mahasiswa. Berkat target, Merry berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi gadis kaya raya sebelum usia 30 tahun. Target membantu Merry dalam banyak hal, mulai dari mempermudah langkahnya menjemput tujuan dan impian hingga mengarahkan hal-hal yang harus dilakukannya untuk mendekatkan diri pada tujuan dan impian.
Sedangkan Motivasi : Motivasi Itu harus ada dalam diri Merry Untuk memulai usahanya, pada waktu itu Merry sengaja menggabungkan uang miliknya dan milik Alva, kekasihnya.
Dan Terakhir Konsisten : Konsisten dalam Arti dia Bersunggguh sungguh.:Disinilah watak Merry yang gemar memasang target kembali ditunjukkan, saat menawarkan produknya ia tak akan pulang sebelum targetnya tercapai, yakni melaksanakan 20 presentasi dalam sehari, uniknya, disaat yang sama Merry juga memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar, maupun bertanya langsung kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Merry Riana (lahir di Jakarta, 29 Mei 1980; umur 35 tahun) adalah pengusaha, penulis dan motivator dari Indonesia.[1]
Merry Riana menerbitkan buku berjudul A Gift From a Friend pada tahun 2006 yang berisi pengalaman dan latar belakang dirinya hidup di Singapura. Buku ini menarik perhatian publik Singapura dan Asia Tenggara karena menuliskan tentang prestasinya menghasilkan S$ 1.000.000 pada usia 26 tahun.[2] Awalnya, Merry Riana adalah mahasiswi Nanyang Technological University yang berhutang sebanyak S$ 40.000.[1] Profil kesuksesan Merry Riana mulai dikenal setelah muncul di artikel The Strait Times pada tanggal 26 Januari 2007 yang berjudul "She's made her first million at just age 26" ("Ia mencapai satu juta dolar pertamanya di usia 26 tahun").[3]
Merry Riana aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, perusahaan, sekolah dan media massa di Singapura dan beberapa negara di Asia Tenggara.[1] Ia dikenal giat dalam memanfaatkan jejaring sosial Twitter dan Instagram.[4]